Selasa, 17 Maret 2009

Mencari Uang di Dunia Maya, Di Mana Uangnya?



Pada hari Jumat 15 Juni 2007 Reader's Digest Indonesia mengadakan acara RDI 5.30 dengan tema "Cari Uang di Dunia Maya". Nara sumber adalah Nukman Luthfie (CEO Visual Consulting), disertai oleh Yohata, pendiri http://www.bukukita.com/ serta Catur pendiri http://www.tokohelm.com/.
Acara diawali dengan informasi terbaru dari Sony Ericsson yang ikut mensponsori acara ini. Sony Ericsson mengedepankan handphone 3G Smart home, yang dilengkapi oleh kamera 2.0 Megapixels, serta perlengkapan Wi-Fi, yakni P990i.

Handphone tampaknya sesuai dengan namanya smart phone, memiliki kecanggihan sehingga kita dapat menyampaikan berita maupun gambar dengan kecepatan yang tinggi melalui internet. Tampaknya sangat menarik untuk kelengkapan kerja seorang profesional. Sebagai citizen journalist tentunya akan sangat menyenangkan untuk memiliki seluruh fungsi laptop ditambah kamera/video dalam genggaman tangan. Mungkin agak sulit untuk membiasakan menulis di handphone ini, tapi pengambilan gambar dan pengiriman berita yang cepat sangat mendukung kecepatan kerja yang dibutuhkan di internet.

Yang diomongkan memang tidak jauh dari pengalaman mencari uang di dunia maya, entah sebagai blogger, promosi bisnis melalui website, maupun yang jelas-jelas mengarah ke bisnis di dunia maya. Nukman Luthfie yang ikut mendirikan Detik.com serta sudah berkecimpung lebih dari sepuluh tahun di dunia maya membantu menguak di mana uang dalam dunia maya bisa diperoleh!
Salah satu yang diungkapkan adalah kapitalisasi trafik, di mana kepadatan pengunjung menjadi sumber dana bagi pemilik blog atau website. Atau melalui penjualan keanggotaan untuk membaca isi dari blog atau website, secara umum pengunjung mereka lebih sedikit tetapi pendapatan masuk dari biaya administrasi per tahun.
Ini mungkin sedikit banyak mirip dengan yang diungkapkan oleh netizen Ohmy News, Lily Yulianti yang mengedepankan kisah seorang wartawan Indonesia yang memilih menjadi "
full time blogger".
Komunitas memang menjadi kunci utama kapitalisasi traffik ini. Semakin banyak yang membaca suatu tulisan semakin besar kemungkinan pemasukan melalui adsense dan affiliaters.
Yohata yang memang pada awalnya bekerja di bidang IT, secara kreatif mencoba terjun dalam
http://www.bukukita.com/. Pada awalnya tentu saja banyak ketakutan yang perlu diperangi, terutama masalah bagaimana membuat orang percaya kepada penjualan melalui internet. Yohata mencoba memulai dengan membangun komunitas. Ia membutuhkan waktu selama enam bulan untuk promosi dan edukasi mengenai kegiatan dan pengenalan jasa penjualan buku lewat internet ini. Setelah satu tahun, selain biaya operasional yang sudah tertutup websitenya sudah bisa menghasilkan antara 30 sampai 60 transaksi per hari. Membangun komunitas terutama dicapai melalui milis atau komunitas lainnya.

Tantangan terbesar dalam masa awal adalah bagaimana memperkenalkan ataupun mengedukasi prospek untuk ikut serta dalam komunitas. Serta masalah-masalah operasional, misalnya bila pemesanan buku sudah dilakukan tapi ternyata penerbit buku sudah tutup sehingga dia harus menjelaskan kepada pemesan yang sudah mengirimkan uang. Ada juga kendala lain seperti banjir yang mengganggu proses pengiriman. Menurut Yohata dalam obrolan singkat dengan saya setelah acara selesai, kemampuan di bidang IT memang cukup membantu dia dalam mengembangkan websitenya. Mengenai resiko adanya penukaran buku karena cacat menurut Yohata menjadi bagian dari garansi yang akan membangun kepercayaan pelanggan.
Kepercayaan adalah unsur utama dalam berbisnis di dunia internet. Kebanyakan transaksi pembelian akan dijalankan setelah pemberi jasa menerima kiriman uang. Terus terang bagi saya yang awam IT dan senantiasa kebingungan dengan ulah hacker ataupun kiriman virus via internet, hal ini adalah masalah yang perlu saya pecahkan sebelum secara serius mencoba mencari uang dari internet.

Yang menarik dari diskusi hari itu, adalah pertanyaan seorang peserta yang merasa gagal menjalankan bisnis perhiasan dan pernak perniknya di internet. Ternyata menurut Nukman Luthfie, memang 80 % pengakses internet adalah laki-laki, sehingga cara promosi yang dilakukan untuk bisnis jenis tersebut di atas harus memakai cara pandang pria, sebagai hadiah yang paling sesuai untuk teman ataupun teman spesialnya. Memang benar, karena wanita biasanya selalu tertarik dengan pernak-pernik ini tapi lebih senang melihat dan menyentuhnya sebelum membeli. Saya teringat ketika akan membuka internet di Plasa Telkom, seorang ibu yang tidak saya kenal tanpa malu-malu mengintip ke layar komputer karena yahoo! menampilkan gambar perhiasan dan tas wanita yang menarik perhatiannya.
Nukman Luthfie terutama menyarankan untuk secara sungguh-sungguh mengenali pasar dan biasanya yang pertama datang menawarkan (pioneer) yang akan berhasil. Tentunya ini membutuhkan kesabaran dan kemampuan menanggulangi ketakutan ketakutan pada awal memulai.

Masih banyak hal yang bisa dipelajari untuk mencari uang di dunia maya, tetapi perlu diingat juga bahwa tidak semua usaha akan berbuah keberhasilan. Diperlukan juga kecermatan, ketangguhan, dan kemauan untuk belajar mengikuti kemajuan teknologi. Bagi seorang blogger atau citizen journalist mungkin originalitas tulisan dan keunikan tulisan akan menjadi faktor utama penarik komunitas pembacanya.

Seorang teman pernah bercerita tentang anak temannya yang masih duduk di bangku SMP tapi sudah berhasil menjual eksperimen kompilasi lagu ciptaannya di internet. Dunia memang terus bergerak maju mengikuti kemajuan teknologi.

Bagaimana? Anda ingin mencari uang di dunia maya? Selamat berjuang!

1 komentar:

  1. silah kan baca dan kasi komen na yachh!!!

    Thanks sebelum na!!!

    BalasHapus